Skip to main content

Pelaku Pesugihan yang Terkutuk Menjadi Buaya Rawa

Sudah lima tahun usaha Pak Subori sukses besar. Usaha coffee shopnya diminati banyak mahasiswa perantauan. 24 jam kedai itu dibuka untuk melayani para pengunjung. Kesuksesannya mengejutkan banyak orang. Lantaran, pria berkumis tebal itu selalu gagal dalam menjalankan bisnis. 

Sudah banyak bisnis ia coba lakukan, mulai dari bisnis retail, jualan baju, hingga bisnis properti semuanya hanya mendatangkan kerugian. Belum lagi akibat yang ditimbulkan, tumpukan utang yang terus perlu untuk dilunasi. 

Di usahanya coffee shopnya ini, Pak Subori mampu mendulang keuntungan. Rahasia sukses bisnisnya juga selalu ia jaga. Ia tak pernah membagikan tips dan cara usaha coffee shop sukses. Meski begitu, terdapat sayup-sayup rumor yang mengatakan bahwa Pak Subori menjalankan laku pesugihan.


Rumor itu benar, tetapi tak pernah terbukti. Pak Subori, berhasil menutupi jejaknya dengan baik. Hal ini ini tak lain dan tak bukan karena pesugihan Pak Subori tidak memerlukan laku ritual yang macam macam. Dirinya hanya perlu menggunakan cincin terbuat dari gigi buaya yang sudah dipoles. 

Lima tahun yang lalu, Pak Subori mendatangi sebuah rawa tua di Jawa Tengah. Berdasarkan arahan dari guru spiritualnya, Pak Subori mencari buaya rawa yang berukuran paling besar. Buaya itu ia tembak dengan senapan. Setelah memastikan buaya itu benar-benar mati, Pak Subori kemudian menggergaji taring depan milik buaya itu. Taring itu lantas ia bawa ke tempat penyepuhan dan menjadikannya mata cincin. Seperti akik, namun taring buaya. 

Sejak saat itu, Pak Subori tidak pernah melepas cincinnya. Sejak itu pula bisnisnya terus berkembang. Penghasilan perbulannya bahkan mencapai ratusan juta. Dari sana, dirinya mampu membeli mobil mewah dan beragam barang-barang berharga lainnya. 

Tampilannya selalu necis dengan cincin bermata putih dan jam mahal dipergelangannya. Pakaian sang istri dan anak-anaknya juga jadi perbincangan di RT, lantaran mereka selalu memiliki koleksi terbaru butik kenamaan. 

Kaya raya dan memiliki segalanya, Pak Subori jadi semakin sombong. Dirinya juga mulai bertingkah semena-mena terhadap para karyawannya. Para karyawan juga tak berani protes lantaran takut dipecat dan tak memiliki penghasilan.  

Selain itu, Pak Subori juga suka bermain wanita. Ia kerap kali terlihat menggandeng banyak perempuan muda untuk ia ajak ke kafenya.  

Ia lupa akan pesan sang guru. “Hati-hati dalam melakukan pesugihan ini, kamu tidak boleh sombong dan bertingkah seenaknya. Bahkan seekor buaya hanya memiliki satu pasangan hidup. Kamu harus setia dengan istrimu, bila tidak petaka akan menghampiri”. 

“Ayuk manis, kita joget-joget. All bills on me” katanya sembari mengajak gadis kuliahan. 
Sayangnya ia tak puas. Merasa tak cukup dengan bir yang ia teguk, Pak Subori memesan minuman dengan alkohol berkadar tinggi. Keduanya berjoget ria tak sadar diri. Hingga bapak-bapak berkumis itu membawa sang gadis pergi menghilang dibalik ramainya kelab.  

Esok paginya, Pak Subori terbangun dalam keadaan pusing luar biasa. Pikirnya ia sedang mengalami hangover sisa mabuk semalam. Tetapi ketika ia mencoba memegang kepalanya, tangannya tak sampai. Ia kemudian melihat hidungnya juga tambah panjang seperti moncong. 

Butuh waktu lama untuk Pak Subori menyadari bahwa dirinya sudah berubah menjadi buaya. Dirinya terkutuk pesugihannya sendiri lantaran tak setia dengan satu perempuan.  

“Tidak… tidak mungkin terjadi.. oh tidakk” teriaknya dalam bahasa buaya. 
Sang perempuan pun juga kaget setengah mati mengetahui ada buaya di kamar hotelnya. Setelah memanggil security buaya itu dibuang di rawa. Keluarga Pak Subori juga kebingungan mencari sosok ayah itu. Istrinya juga melaporkan ke polisi atas orang hilang. 

Tak ada yang tahu bahwa Pak Subori berubah menjadi buaya, kecuali sang guru spiritual yang memilih diam saja. Lantaran Pak Subori telah diberi peringatan namun ia tak menuruti.  

Pak Subori pun kini mendiami rawa itu sebagai buaya pinggiran. Di kalangan buaya, dirinya juga tak diterima lantaran ia bukan buaya sungguhan. Alhasil, ia hidup sebagai buaya buangan di rawa itu. 
Tulisan ini hanya rekayasa. Kesamaan nama dan tempat hanyalah kebetulan belaka.


Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar