Skip to main content

250 Feet 358 Knot: Ada Upaya Pilot Angkat Ketinggian Pesawat: Gagal Full Stall: Menit Berbahaya


Captain Vincent ternyata melihat ada waktu Paling krusial dan berbahaya dalam jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. Menit krusial itu ditunjukkan oleh Flight Radar 24.

Ya, Captain Vincent membantu masyarakat untuk memahami data di flight radar 24 terkait jatuhnya sriwijaya air SJ182.

Ya, memang sejak ramai jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air SJ182 sudah beredar rekaman data flight radar 24 menyangkut data terbang pesawat tersebut.

Banyak orang lalu menjadi penasaran akan arti dalam angka-angka di data flight radar 24 itu.

Seperti diketahui Captain Vincent seorang pilot senior yang juga YouTuber pun memilih membacakan dan mengartikan data tersebut.

Sampai Senin 11 Januari 2021, video ini sedang di urutan ke 13 trending YouTube.

Dalam video itu, Captain Vincent menjelaskan bahwa dia hanya membaca data itu, bukan menyimpulkan apa penyebab jatuhnya SJ182.

Sebab, kata Vincent, menyebut penyebab jatuhnya bukanlah wilayah dirinya untuk menjelaskan.

Selain itu, Vincent juga menjelaskan bahwa data di flight radar belum tentu akurat dan bisa saja salah.

"Ini bukan suatu hal yang pasti, tetapi hanya ancer-ancer saja," kata Vincent.

Untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat, perlu analisa lebih jauh lewat CDR maupun FDR.

Vincent lalu mulai menjelaskan dari jam yang ditunjukkan pada data flight radar tersebut,

Data jam di awal video rekaman flight radar menunjukkan pukul 6.37 AM.

"Waktu di sini adalah waktu UTC atau universal time coordinated. Artinya jam yang ada di pesawat kita itu menggunakan jam UTC. Sehingga jam di jakarta harus dikalkulasi sendiri," ujar VIncent. 
Artinya jika di jam flight radar adalah pukul 6.37 AM, maka saat itu di Jakarta atau bandara soetta sudah pukul 13.37.

Artinya, pesawat itu sudah ada di Jakarta sejak pukul 13.37 siang.

Diketahui, bahwa seharusnya SJ182 terbang dari Bandara Soetta pukul 13,25.

Ya, SJ 182 memang mengalami delay di mana diketahui pesawat baru mulai take off pukul 14.36 WIB.

Kembali ke analisa Vincent,

Selanjutnya, kata Vincent, pukul 13.37 itu pesawat sudah mulai meminta push back.

Dalam waktu 2 menit, kata VIncent, yakni 13.39, pesawat sudah berada di titik tertentu dan Vincent menduga sudah mulai start engine.

Berikutnya, ujar Vincent, pada 13.40, pesawat sudah mulai taxi.

"Tapi yang saya bingung, kenapa dia taxinya ke sebelah kiri," ujar Vincent.

"Makanya saya bilang flight radar ini bisa agak tidak akurat. Lalu ada blip dia loncat ke sana. Ini sepertinya kesalahan sensor (flight radar)," ujar Vincent.

Tapi kemudian dari bacaan data flight radar, captain vincent melihat pesawat kembali ke apron.

Lalu berikutnya selama kurang lebih 40 menit menunggu, sekitar 13.40 sampai 14.18, barulah SJ182 mulai taxi out.

Selanjutnya pesawat baru take off pada 14.35 sesuai data flight radar 24.

Saat take off, seluruh kondisi pesawat dalam kondisi normal baik kecepatannya dan lainnya.

Rute yang digunakan SJ182 adalah ABASA. Artinya pesawat harus menuju NABIL dan sudah sampai di ketinggian 8000.

Menurut Vincent, dari rute yang dijalankan SJ182, sebenarnya sudah cukup sesuai dengan yang ada di flight radar 24.

Vincent menyebut bahwa segalanya normal mulai dari ground speed yang sudah terbaca mencapai 268 knots dan ketinggiannya.

Sampai pukul 14.39 atau sesaat setelah take off, Vincent masih melihat indikator pesawat masih normal.

"Di sini tidak ada indikasi apapun bahwa pesawat ini ada masalah. Altitude dan speednya masih normal semua," ujar VIncent.

Menit Krusial

Kemudian di satu titik Vincent melihat bahwa pesawat oleng 3 derajat dari jalurnya. Harusnya 40 derajat, ini menjadi 43 derajat.

"Ini bisa saja kalau kena turbulennce," ujar Vincent.

Tapi berikutnya kurang dari satu menit, atau pukul 14.40, pesawat mendadak belok ke kiri atau keluar dari jalurnya lagi.

Dari tadinya ada di posisi 43 derajat, kini jadi 30 derajat. Atau artinya pesawat sudah keluar dari jalurnya sejauh 10 derajat sebab seharusnya ada di 40 derajat.

Tapi saat itu, kata VIncent, speednya masih normal begitu juga altitudenya. Speed ada di posisi 287 knot dan altitude 10.500 kaki.

Tapi berikutnya pesawat kembali terlihat menikung karena posisinya kini jadi 23 derajat. Berikutnya berubah lagi jadi 6 derajat yang artinya pesawat sudah 40 derajat off track dari jalurnya.

"Kurang dari 1 menit, pesawat ini off track 40 derajat," kata Vincent.

Tapi, ujar Vincent, speednya masih dikatakan cukup normal.

Tapi tiba-tiba, ujar Vincent, data flight radar menunjukkan bahwa pesawat mendadak menghadap ke kiri di posisi 339 derajat, dan dive down ke 8.950 feet dan ground speednya turun jadi 224.

Vincent menjelaskan bahwa kondisi ini memperlihatkan pesawat sangat berisiko mengalami stall.

Berikutnya speed jatuh kembali menjadi 192 knot dan ketinggiannya turun lagi menjadi 8.125 feet.

Masih pada menit yang sama, yakni pukul 14.40, kecepatan pesawat turun lagi menjadi 115 knot dan ketinggiannya jadi 5.400 feet.

Melihat speed pesawat, Vincent menyebutkan bahwa kuat sekali bahwa pesawat ini terkena full stall.

"Akan sulit sekarang direcover dengan ketinggian segini (5.400 feet)," ujar Vincent.

Data berikutnya menunjukkan ketinggian terus turun ke 250 feet dengan kecepatan yang justru meningkat jadi 358 knot. Disitulah angka terakhir data pesawat di flight radar 24.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar