Skip to main content

DITINGGAL Ayah, Ibu & Adik Jadi Korban Sriwijaya Air, Irfan: Rumah Kosong, Gak Ada Siapa-siapa lagi


Tragedi Sriwijaya Air SJ-182 turut merenggut semua anggota keluarga Irfansyah.

Yang tersisa hanyalah kenangan, itulah yang kini dirasakan Irfansyah saat ayah, ibu dan adiknya menjadi korban tragedi Sriwijaya Air.

Saking kehilangan, Irfansyah sempat berseloroh ingin mengembalikan nyawa keluarganya jika memang bisa.

"Kalau ada sesuatu yang bisa saya lakukan buat bikin mereka kembali, saya lakukan.

"Tapi gak mungkin, ini sudah takdir Allah," ucap pilu Irfansyah dikutip TribunJakarta.com dari kanal YouTube Beepdo.

Irfansyah membantu semua persiapan orangtua dan adiknya pulang ke Pontianak.


Mulai dari mengantar ke Bandara Soekarno Hatta sampai urusan bagasi.

Kabar duka ini sungguh membuat hati Irfan hancur.


Irfan mengingat momen bahagia sebelum orangtua dan adiknya tersebut pulang ke Pontianak.

"Kami jalan-jalan, makan, seneng-seneng, sekarang baru kerasa,"

"Nyampe rumah kosong, ga ada siapa-siapa sepi.

Bener-bener gak bisa digambarin lagi," tutur Irfan menangis dikutip TribunJakarta.com di YouTube Beepdo.com.

Tak hanya itu, Irfan menangis kala mengingat perpisahan sang adik, Ratih Winandia di bandara sebelum menaiki pesawat terseut.

"Dia dadah, pulang dulu ya. Itu saja," ucap Irfan menangis.

Irfan bahkan memeragakan lambaian tangan Ratih sesaat sebelum berjalan masuk ke pesawat Sriwijaya Air.

Mendengar cerita pilu Irfan, terdengar pewarta menyampaikan bela sungkawanya.

"Astagfirullah, turut berduka mas," ucap pewarta.

Irfan mengaku mengantar Ratih dan orangtuanya ke Bandara untuk kembali ke Pontianak.

Dikatakan Irfan, seharusnya orangtuanya terbang pukul 07:00 WIB pagi hari Sabtu.

"Tapi karena ada peralihan.

Jadi kita itu jalan dari Bandung Jumat, sampai Jakarta malam, berharap paginya terbang," ucapnya dikutip TribunJakarta.com dilansir dari YouTube Beepdo.com, Senin (11/1/2021).

Namun, Irfan mengaku jadwal penerbangan orangtua dan adiknya dipindahkan pukul 13:00 WIB.

"Dalam pesawat itu ada bapak, ibu, adik, keponakan saya dua orang, nah itu jadwalnya hari Sabtu digeser ke 13:30 WIB," tutur Irfan.

Irfan membantu mengurus semua persiapan orangtua dan adiknya pulang ke Pontianak.

Mulai dari mengantar ke bandara, cek in, sampai urusan bagasi.

"Sudah selesai, orangtua saya tinggal masuk ke dalam," ucap Irfan.

Setelah orangtua dan adik naik pesawat, Irfan mendapat kabar duka pada pukul 16:00 WIB.

Seketika, Irfan langsung pergi ke bandara Soekarno-Hatta.

"Di sini udah ada tulisan dan udah dipastikan pesawat jatuh," ucap Irfan.

Irfan mengaku yakin orangtua dan adiknya menaiki pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

"Karena memang saya yang nganter sendiri, saya yang cek in, saya sudah pastikan ada orangtua di dalam,"

"Pas saya lihat manifest ada semua," tutur Irfan.

Tak ada firasat Irfan akan ditinggalkan orangtua dan adik serta keponakannya.

Hanya saja, Irfan mengingat permintaan sang ayah untuk salat jamak.

"Ayah saya itu gak pernah mau jamak salat gabungin gitu. Tiba-tiba hari itu dia nanya saya 'bapak boleh gak jamak antara zhuhur dan ashar',"

"Nah saya bilang 'boleh pak, kan bapak gatau nyampe jam berapa dan mau kemana dulu' itu jawaban saya," ucap Irfan.

"Qodarullah dia udah salat jamak dan dapat kabar pesawat jatuh," cerita Irfan dengan suara terbata.

Air mata Irfan tak bisa dibendung lagi kala mengingat nasib keluarganya.

Irfan mengaku merupakan dua bersaudara.

"Bapak ibu adik saya, saya dua bersaudara, udah gak ada siapa-siapa lagi," tutur Irfan seraya ditenangkan rekannya.

Irfan menyebut adiknya, Ratih sedang hamil 5 bulan.

Suami Ratih sudah menunggu di bandara di Pontianak saat itu.

"Adik saya lagi hamil 5 bulan, suaminya nunggu di Pontianak.

Semua ada di pesawat itu, saya sekarang tinggal pasrah, serahkan semua sama Allah," kata Irfan.

Irfan mengaku ikhlas menerima musibah yang terjadi di keluarganya.

Mendengar cerita pilu Irfan, terdengar pewarta menyampaikan bela sungkawanya.

"Astagfirullah, turut berduka mas," ucap pewarta.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar